AWALNYA CERITA OTTO, AKHIRNYA KANGEN RUMAH
Uniknya
ketika berada di kota Kalabahi yaitu naik otto bemo (angkot) dengan fasilitas gratis
mendengar musik/sound bervolume super
kencang ditambah bass yang menggelegar
membuat kuping terasa “budeg” untuk sementara waktu. Musik yang mereka putar kebanyakan
adalah musik khas timur dengan bahasa Indonesia beraksen aneh (bagi saya) yang
selama kita dengar akan berubah menjadi menarik, kemudian secara tidak sadar membuat
mulut kita latah, meniru, bersuara, bergumam, tidak jelas artikulasinya. Karena
apa? Ya karena tidak begitu tahu lirik serta maknanya. “Memang asyik, jadi!”
Dua
lagu yang paling sering terdengar selama naik otto antara lain berjudul Ade Su Nikah
dan Ade Baju Biru (promosi lagu orang euy, download segera gih). Dua lagu berbeda
genre tersebut saya pikir memiliki notasi nada easy listening sehingga membuat masyarakat timur khususnya,
menggandrungi lagu-lagu tersebut, tak terkecuali saya sebagai pendatang baru
(di dunia ketimuran). Selain itu, penggunaan lirik yang terdengar fan (ditulis:
fun) seperti oh oh ade su nikah.. kaka
gaya lambat.. ade su dan dia.. -abis kaka lambat jadi-.. (adik sudah nikah,
kakak terlalu lama, adek sudah bersamanya, -habisnya kakak terlalu lama-) menambah
daya tarik tersendiri bagi lagu tersebut. “Setidaknya mp3 sa su dapat kemarin
sore, buat sa nyanyi rame-rame sama sa pu kawan SM-3T”.
Cukup
untuk bahasan tentang lagu, kembali ke topik awal: Otto. Meskipun harus duduk
berdesak-desakkan, bau ikan, bau asap kendaraan, serta bau keringat para penumpang,
yang kadang membuat saya mabok bukan kepalang (mencoba untuk jujur), tidak
menghilangkan kesan “otto fancy” dari segi tampilan desain cat + gambar luarnya.
Ada yang berwarna putih, biru, dan ada juga yang berwarna kuning menyala, tergantung
trayeknya. Otto oh otto, salah satu
angkutan umum yang menjadi kendaraan utama saya selama saya ada di kota.
Berbicara
tentang kota, saya jadi kangen rumah. Saya kangen suasana rumah. Entahlah,
meskipun saya bukan orang kota, bukan berasal dari kota, tapi hidup jauh dari
kota memang terasa hampa. Tidak ada signal untuk berkomunikasi, tidak ada
kendaraan untuk kesana kemari, serta kondisi jalan yang tidak mudah dilalui, membuat
hidup terasa begitu lambat. Kata “aleman”, “soksokan”, atau kata
“lebay” sekalipun, siap saya terima. Yang jelas saya kangen dengan yang namanya
“apa-apa ada”. Hehehe disini memang saya berjuang, disini memang saya mengabdi,
segala risiko juga sebelumnya sudah saya setujui, tapi sungguh rasa ini tak
bisa dibohongi. Saya kangen rumah. Kangen orang-orang rumah. Kangen seisi
rumah. Mungkin ada beberapa hal yang mampu men-skip rasa rindu ini. Tapi lagi-lagi semua kembali lagi. Rindu tetap
hinggap tak mau menjauh dr diri. PAYAH! HAHAHAHA


0 $type={blogger} :
Post a Comment